hariancentral.net, Kabanjahe - Kanker ovarium seringkali dijuluki “silent killer” karena gejalanya yang tidak muncul pada stadium awal namun muncul menjelang stadium akhir. Penyakit ini terletak pada indung telur (ovarium), organ yang berperan penting dalam memproduksi sel telur dan hormon.
Penyebab pasti kanker ovarium seringkali sulit diidentifikasi, namun umumnya didorong oleh perubahan atau mutasi genetik pada sel.
Gejala khas yang perlu diwaspadai, terutama jika terjadi terus-menerus, meliputi perut kembung yang terus menerus, cepat kenyang meskipun makan dalam porsi kecil, nyeri panggul, dan perubahan kebiasaan buang air.
Inilah yang di alami Kristina Natalia Br. Sidauruk (21) seorang peserta Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) asal Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara. Dalam Siaran Pers BPJS Kesehatan, Kamis (16/4), Kristi berbagi pengalamannya sebagai peserta Program JKN yang terdaftar pada segmen Penerima Bantuan Iuran (PBI). Kristina mengaku tidak mengeluarkan biaya sepeserpun untuk seluruh proses pengobatan yang dijalaninya melalui tindakan kemoterapi di rumah sakit.
“Saya sudah menjalani kemoterapi. Penyakit ini muncul saat saya masih aktif menjadi mahasiswa di Kota Medan. Jadwal menstruasi saya sering tidak teratur. Awalnya saya fikir ini adalah hal yang biasa karena faktor kelelahan. Namun hal ini berlanjut sampai akhirnya saya merasakan nyeri hebat setiap menstruasi,” ujar Kristi.
Kristi menuturkan bahwa dirinya berusaha menjalani hari-harinya dengan tenang meskipun dalam kondisi sakit, hal ini juga didukung oleh Program JKN yang membantunya meringankan beban biaya saat berobat.
“Saya pernah dirawat di Rumah Sakit Amanda Berastagi lalu di rujuk ke Rumah Sakit Adam Malik Medan untuk mendapatkan pelayanan lebih lanjut. Sesampainya di Rumah Sakit Adam Malik kemudian cek darah terlebih dahulu agar untuk mengetahui saya sakit apa. Waktu itu saya dirawat inap. Dari hasil cek darah itulah saya didiagnosa kanker ovarium,” jelas Kristi.
Kondisi Kristi sempat memburuk dan mengharuskan dirinya harus menjalani operasi dan kemoterapi serta harus rawat inap berkali-kali. Upaya demi upaya di lakukan, hingga sampai saat ini Kristi sudah melakukan sepuluh kali kemoterapi dan dua kali operasi. Kondisi Kristi kini sudah mulai membaik. Ia menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Program JKN yang selalu membantu dirinya selama pengobatan.
“Puji Tuhan Program JKN ini sangat membantu sekali. Ini adalah pengalaman pribadi saya sendiri memakai layanan fasilitas kesehatan dengan Program JKN. Dari awal berobat hingga operasi berapa biaya yang harus saya keluarkan kalau tidak ada program ini. Mungkin saya tidak bisa melanjutkan berobat dan tidak tahu bagaimana nasib saya kalau tidak ada JKN. Oleh karenanya saya sangat berterima kasih kepada pemerintah karena telah hadir melalui Program JKN. Saya tahu orang dengan kemampuan finansial yang baik pun akan kewalahan apabila harus disuruh bayar biaya pengobatan, apalagi bagi orang-orang yang kurang mampu. Terima kasih sekali lagi, dengan Program JKN kami seluruh masyarakat bisa berobat tanpa harus terbebani biaya,” tutup Kristi. (Pangab)

