|

Dugaan Aliran Air Perkebunan Sawit Rusak Kebun Warga, Kabid PTPH Nias Janji Sampaikan ke Perusahaan





HarianCentral,net – Keluhan petani di Dusun I, Desa Balale Toba’a, Kecamatan Bawolato, terkait dugaan dampak aliran air dari kawasan perkebunan sawit PT Nias Agro Sejahtera mendapat perhatian dari Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan Kabupaten Nias.


Kepala Bidang Perkebunan, Tanaman Pangan dan Hortikultura (PTPH), Adventina Dachi, mengatakan pihaknya telah turun langsung melihat kondisi lahan pertanian warga yang ditanami jagung dan kelapa, Selasa (11/8/2026).


Tanggapan tersebut disampaikan Adventina saat ditemui wartawan Harian Central di ruang kerjanya, Rabu (12/8/2026).


Menurut Adventina, berdasarkan informasi yang disampaikan warga kepada Dinas Pertanian, terdapat material sisa pembukaan lahan yang diduga terbawa aliran air ketika terjadi hujan deras hingga masuk ke lahan pertanian masyarakat.


“Berdasarkan informasi dari warga, sisa material akibat pembukaan lahan dan lumpur terbawa air pada saat hujan deras,” ujar Adventina.


Ia menjelaskan, material lumpur yang masuk ke lahan warga diduga telah berdampak terhadap tanaman pertanian, khususnya jagung dan kelapa. Bahkan, tanaman kelapa mulai menunjukkan perubahan kondisi dengan daun yang menguning.


“Tanaman kelapa sudah mulai menguning daunnya. Kalau kondisi ini berlangsung lama, bisa menyebabkan tanaman mati. Begitu juga dengan tanaman jagung yang sudah terdampak oleh lumpur,” jelasnya.


Adventina menilai kondisi tersebut perlu segera mendapat perhatian agar kerusakan lahan dan tanaman warga tidak semakin meluas. Jika aliran air yang membawa material lumpur terus masuk ke lahan pertanian, dikhawatirkan kerusakan tanaman akan semakin parah dan berdampak terhadap mata pencaharian petani.


Ia juga menegaskan bahwa masyarakat pada prinsipnya tidak menolak keberadaan perusahaan perkebunan. Namun, warga meminta agar pengelolaan saluran air dari kawasan perkebunan tidak diarahkan ke wilayah permukiman maupun lahan pertanian masyarakat.


“Warga sebenarnya tidak menolak PT. Mereka hanya meminta agar pembuangan saluran air jangan dialihkan ke Dusun I Desa Balale Toba’a sehingga berdampak terhadap lahan dan tanaman mereka,” ungkapnya.


Adventina mengatakan pihaknya akan meneruskan keluhan dan aspirasi petani tersebut kepada PT Nias Agro Sejahtera. Namun, hingga saat ini pihaknya belum dapat melakukan peninjauan langsung ke lokasi perusahaan karena kondisi akses jalan yang cukup sulit.


“Kita akan menyampaikan keluhan petani ini kepada pihak PT Nias Agro Sejahtera. Kami belum sampai ke lokasi PT karena kondisi jalan berlumpur. Dari Dusun I menuju lokasi PT harus ditempuh dengan berjalan kaki sekitar 2 sampai 3 kilometer,” ujarnya.


Kondisi akses tersebut menjadi salah satu kendala bagi pihak Dinas Pertanian untuk melakukan peninjauan langsung hingga ke kawasan perkebunan. Karena itu, keluhan masyarakat akan disampaikan kepada pihak perusahaan untuk kemudian dikoordinasikan dan ditindaklanjuti di lapangan.


Para petani berharap persoalan aliran air dan material lumpur tersebut segera mendapat penanganan serius dari pihak terkait. Mereka khawatir, jika tidak segera diatasi, kerusakan tanaman jagung dan kelapa akan semakin meluas serta menimbulkan kerugian bagi masyarakat.


Sementara itu, upaya konfirmasi kepada pihak PT Nias Agro Sejahtera terkait keluhan petani tersebut telah dilakukan. Namun, hingga berita ini diterbitkan, pihak perusahaan belum memberikan tanggapan. 


(E7177)

Komentar

Berita Terkini