|

Inflasi Sumut Juli 2026 Capai 4,20 Persen, Harga Cabai hingga Emas Jadi Pemicu



Hariancentral-Net I Medan

Provinsi Sumatera Utara mencatat inflasi year-on-year (y-on-y) sebesar 4,20 persen pada Juli 2026. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Utara, Indeks Harga Konsumen (IHK) Juli 2026 mencapai 113,47, meningkat dibandingkan IHK pada Juli 2025 yang berada di level 108,90.


Statistisi Ahli Utama BPS Provinsi Sumatera Utara, Misfaruddin, M.Si, menyampaikan perkembangan inflasi tersebut di Medan, Senin (3/8/2026).


Menurutnya, inflasi y-on-y tertinggi terjadi di Kota Gunungsitoli sebesar 6,36 persen dengan IHK 116,38. Sementara inflasi terendah tercatat di Kabupaten Karo sebesar 3,83 persen dengan IHK 113,17.


“Inflasi y-on-y tertinggi terjadi di Kota Gunungsitoli sebesar 6,36 persen dan terendah terjadi di Kabupaten Karo sebesar 3,83 persen,” ujar Misfaruddin.


Ia menjelaskan, inflasi tahunan Sumatera Utara dipengaruhi kenaikan harga pada seluruh kelompok pengeluaran. Kenaikan tertinggi terjadi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 8,66 persen.


Selanjutnya, kelompok makanan, minuman dan tembakau mengalami inflasi sebesar 5,95 persen, disusul kelompok transportasi sebesar 5,21 persen.


Sementara itu, kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran mengalami inflasi sebesar 3,55 persen. 

Kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 3,37 persen, serta kelompok pendidikan sebesar 3,08 persen.


Kelompok kesehatan tercatat mengalami inflasi 2,51 persen, pakaian dan alas kaki 2,37 persen, perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga 1,46 persen, serta kelompok rekreasi, olahraga dan budaya 0,95 persen.


Adapun kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga mencatat inflasi sebesar 0,81 persen.


Makanan dan Minuman Jadi Penyumbang Terbesar

Dari sisi andil terhadap inflasi y-on-y, kelompok makanan, minuman dan tembakau memberikan kontribusi terbesar, yakni 2,14 persen.


Kemudian kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya memberikan andil 0,54 persen, transportasi 0,50 persen, penyediaan makanan dan minuman/restoran 0,30 persen, serta kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan dan pendidikan masing-masing 0,16 persen.


Kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga memberikan andil 0,13 persen, pakaian dan alas kaki 0,11 persen, perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga 0,08 persen, kesehatan 0,06 persen, serta rekreasi, olahraga dan budaya 0,02 persen.


Secara komoditas, sejumlah barang menjadi penyumbang utama inflasi tahunan Sumatera Utara. Emas perhiasan memberikan andil 0,46 persen, cabai merah 0,37 persen, cabai rawit 0,32 persen, tomat 0,23 persen, bensin 0,22 persen, minyak goreng 0,16 persen, dan angkutan udara 0,14 persen.


Komoditas lainnya yang turut memberikan andil antara lain akademi/perguruan tinggi sebesar 0,11 persen. Sementara ikan kembung/ikan gembung/ikan banyar/ikan gembolo/ikan aso-aso dan ikan dencis masing-masing memberikan andil 0,10 persen.


Beras dan telepon seluler masing-masing menyumbang 0,08 persen. Kemudian ikan tongkol/ikan ambu-ambu dan Sigaret Kretek Mesin (SKM) masing-masing 0,07 persen.

Daging ayam ras, laptop/notebook, ayam goreng dan udang basah masing-masing memberikan andil 0,06 persen, sedangkan wortel dan mi masing-masing sebesar 0,05 persen.


Bawang Merah Tahan Laju Inflasi

Di sisi lain, sejumlah komoditas memberikan andil terhadap penahanan laju inflasi atau deflasi y-on-y. Bawang merah menjadi komoditas dengan andil deflasi terbesar, yakni 0,28 persen.


Selanjutnya, daging babi, kacang panjang dan sawi putih/pecay/pitsai masing-masing memberikan andil deflasi sebesar 0,02 persen.


“Komoditas detergen cair, kemeja panjang katun pria, sekolah menengah atas, popok bayi sekali pakai, pembersih lantai, sabun detergen bubuk dan bawang bombay juga memberikan andil deflasi y-on-y masing-masing sebesar 0,01 persen,” jelas Misfaruddin.


Sementara secara bulanan, Sumatera Utara mengalami inflasi month-to-month (m-to-m) sebesar 0,19 persen pada Juli 2026. Angka tersebut turut membentuk inflasi year-to-date (y-to-d) sebesar 1,09 persen.


Inflasi bulanan terutama dipengaruhi kenaikan harga cabai rawit yang memberikan andil 0,17 persen, beras 0,07 persen, tomat 0,06 persen, bensin 0,05 persen, serta daging ayam ras dan kangkung masing-masing 0,03 persen.


Bayam dan jengkol masing-masing memberikan andil inflasi m-to-m sebesar 0,02 persen. Sementara cabai hijau, semen, ikan kembung/ikan gembung/ikan banyar/ikan gembolo/ikan aso-aso, wortel, brokoli, kentang dan biskuit masing-masing memberikan andil 0,01 persen.


Sebaliknya, bawang merah menjadi komoditas dengan andil deflasi m-to-m terbesar, yakni 0,17 persen. Disusul emas perhiasan sebesar 0,07 persen dan ikan tongkol/ikan ambu-ambu sebesar 0,05 persen.


"Penurunan harga juga terjadi pada jeruk dan telur ayam ras dengan andil deflasi m-to-m masing-masing 0,03 persen, cabai merah dan udang basah masing-masing 0,02 persen, serta semangka, ikan lele, minyak goreng, kacang panjang dan pembersih lantai masing-masing 0,01 persen,” pungkas Misfaruddin. (Pul)

Komentar

Berita Terkini