HarianCentral,net| Nias – Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Lumbung Informasi Rakyat (LIRA) Kabupaten Nias melakukan kunjungan investigasi terhadap pelaksanaan Program Revitalisasi Satuan Pendidikan di SDN 076701 Balale, Kecamatan Bawolato, Kabupaten Nias, Sumatera Utara, Sabtu (19/9/2026).
Kunjungan tersebut dilakukan untuk memantau pelaksanaan program pembangunan yang bersumber dari anggaran negara sekaligus menyerap aspirasi pihak sekolah dan masyarakat terkait kondisi infrastruktur pendidikan serta akses transportasi di wilayah tersebut.
Tim DPD LIRA Nias yang terdiri dari Denius Gulo dan Aroziduhu Gulo bersama awak media diterima langsung Kepala SDN 076701 Balale, Firdaus Baru Zebua, S.Pd., SD, bersama sejumlah guru.
Dalam pertemuan tersebut, Denius Gulo memperkenalkan keberadaan dan struktur organisasi LIRA. Ia menjelaskan bahwa LIRA memiliki struktur mulai dari tingkat pusat hingga kabupaten.
“Tak kenal maka tak sayang,” ujar Denius saat memperkenalkan LIRA kepada pihak sekolah.
Menurut Denius, kehadiran LIRA di tengah masyarakat lebih mengedepankan edukasi serta pengawasan sosial terhadap berbagai program pembangunan pemerintah.
“Kami ingin mengedukasi masyarakat tentang pentingnya pembangunan dan mengajak semua pihak mendukung program revitalisasi ini agar berjalan sebagaimana mestinya,” katanya.
Denius juga menyoroti kondisi fiskal daerah yang menurutnya terbatas akibat kebijakan penghematan atau pemangkasan anggaran pemerintah pusat.
“Daerah tidak memiliki kemampuan fiskal yang cukup. Karena itu, dengan adanya program revitalisasi ini tentu kita sambut baik. Kita berharap program ini benar-benar terlaksana sesuai kebutuhan sekolah dan memberikan manfaat bagi peserta didik,” ujarnya.
Anggaran Revitalisasi Rp719 Juta
Kepala SDN 076701 Balale, Firdaus Baru Zebua, menyampaikan apresiasi atas kunjungan DPD LIRA Nias. Ia mengatakan pihak sekolah bersama P2SP siap memberikan informasi terkait pelaksanaan program revitalisasi.
“Program revitalisasi ini bersumber dari APBN Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia dengan pagu anggaran sebesar Rp719.105.620 untuk tahun anggaran 2026,” jelas Firdaus.
Ia memaparkan sejumlah pekerjaan yang masuk dalam program revitalisasi, di antaranya rehabilitasi tiga ruang kelas belajar (RKB), rehabilitasi satu ruang perpustakaan, penataan lingkungan sekolah, penyediaan sumur bor, pekerjaan plafon blok, serta pengecatan tiga ruang kelas.
Selain itu, plafon pada sejumlah ruang kelas juga dilakukan penggantian menggunakan material tripleks.
Firdaus mengatakan SDN 076701 Balale saat ini memiliki lima tenaga guru, termasuk kepala sekolah, dengan jumlah peserta didik sebanyak 50 siswa.
Sekolah Masih Butuh Ruang Kelas hingga Pagar
Meski mendapat program revitalisasi, Firdaus menyebut kebutuhan sarana dan prasarana sekolah masih cukup banyak.
Ia berharap pemerintah pusat maupun pemerintah daerah dapat melanjutkan perhatian terhadap SDN 076701 Balale, khususnya untuk pembangunan ruang kelas baru, rumah dinas guru, ruang UKS, ruang laboratorium, penataan pekarangan sekolah hingga pembangunan pagar.
“Harapan kami program revitalisasi ini dapat terus dilanjutkan. Masih banyak kebutuhan sekolah yang belum terpenuhi,” katanya.
Material Harus Diangkut Lewat Pantai
Kendala lain yang dihadapi selama pelaksanaan pekerjaan adalah akses transportasi material.
Firdaus menjelaskan, pengangkutan bahan material harus melalui jalur pantai karena belum tersedianya akses jalan darat yang memadai.
“Kalau ombak naik, itu menjadi kendala. Kami harus menunggu sampai air laut surut baru bisa dilewati,” ungkapnya.
Menurutnya, kondisi tersebut tidak hanya menghambat pengangkutan material pembangunan, tetapi juga menjadi persoalan bagi para guru dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
“Ini penantian lama. Kami berharap pemerintah pusat maupun daerah memberikan perhatian serius, terutama pembangunan infrastruktur jalan. Kami guru sering mengalami kesulitan karena tidak ada akses jalan darat dan harus melewati pantai laut,” ujarnya.
PID Bantuan Pemerintah Tidak Berfungsi
Selain persoalan infrastruktur, pihak sekolah juga menyampaikan kendala terkait bantuan Papan Interaktif Digital (PID) yang diterima dari pemerintah pusat.
Firdaus mengatakan perangkat tersebut saat ini tidak dapat digunakan karena layar tidak terbaca.
“Kami sebenarnya sangat membutuhkan perangkat tersebut. Namun saat ini tidak berfungsi karena layarnya tidak terbaca. Harapan kami bisa mendapatkan penggantian atau bantuan ulang dari pemerintah pusat,” katanya.
LIRA Soroti Akses Jalan Toba'a-Balale
Sementara itu, Aroziduhu Gulo dari DPD LIRA Nias menyoroti kondisi akses jalan di wilayah Kecamatan Bawolato, khususnya di Desa Toba'a dan Desa Balale.
Menurutnya, buruknya akses transportasi turut berdampak terhadap mobilitas masyarakat maupun kelancaran pembangunan di wilayah tersebut.
Aroziduhu berharap pemerintah pusat memberikan perhatian terhadap kemampuan fiskal daerah sehingga pemerintah daerah memiliki ruang anggaran yang cukup untuk menangani kebutuhan infrastruktur dasar.
“Daerah tidak bisa berbuat banyak kalau kemampuan APBD terbatas. Apalagi ketika terjadi pemangkasan anggaran, kemampuan daerah untuk membangun jalan tentu semakin terbatas,” katanya.
Ia juga meminta agar keberlanjutan Dana Desa (DD) tetap menjadi perhatian pemerintah pusat sebagai salah satu instrumen pembangunan dan pemberdayaan masyarakat di desa.
“Banyak pembangunan yang telah dilakukan melalui Dana Desa, meskipun tentu masih perlu peningkatan mutu. Kalau Dana Desa terus ditiadakan, dikhawatirkan dapat menghambat pembangunan dan pertumbuhan ekonomi masyarakat,” pungkasnya. (E7177)



